JALAN-JALAN KE ARAB
Oleh :
SIDIQ AKBAR NUGRAHA
Suatu hari dua orang sahabat yang sekolah dari TK sampai SMA di tempat yan sama dan sama-sama kuliah di perguruan tinggi ternama di Indonesia dan sama-sama memiliki hobi traveling melakukan perjalanan keliling dunia. “Eh libur kuliah bulan ini kita travel keliling dunia yuk Yud.” ajak Agus
“Tapi gratis nggak?.” (Yudhi)
“Tenang aja gue lagi cari promo travel yang lagi diskon nih.”
“Yah mana dompet gue hampir kosong lagi gara-gara traktir si Mellisa terus.”
“Tenang nanti gue yang soal akomodasi dan biaya gue yang tanggung. Makanya kalau pacaran tuh jangan pake lama dan jangan seriusan. Buruan halalin.”
“Ah lo ceramah mulu.”
“Cakep. Lo emang sahabat gue yang terbaik bro.”
“Gue cari info harga tiket dulu, lo siapin barang-barang yang kita mau bawa. Barang-barang wajib aja, pisahin koper taruh pakaian sama koper perlengkapan kalau nanti pas kita mau jelajah alam di sana. Cari semua info lengkap tentang negara yang akan kita kunjungi mengenai hotel//penginapan murah, makanan, oleh-oleh khas dan utamanya spot-spot cantik disana. Packing barangnya harus rapi terus kasih kode. Gue biar urus, urusan administrasi, tiket, passport sama biaya hidup selama kita traveling.”
“Iya, eh tapi Mellisa sama Nadia perlu ikutan nggak?”
“Ah nggak usah biar ini jadi men’s time oke bro.”
“Yeeeees. Oke deh bro gue kerjain.”
Beberapa jam kemudian
*************************************************************************
(Agus) : “Eh bro barusan gue dapat notifikasi dari aplikasi travel ada diskon tiket pesawat nih. Ntar lo daftar apa aja yang kurang terus lo yang belanja duitnya kita patungan. Nggak apa kan?”
(Yudhi) : “Iyalah bro masak semua lo sendiri doang yang tanggung. Kita kan best friend dari kecil. Lagipula gue penasaran bagaimana sih kehidupan di timur tengah, apa benar timur tengah itu sarang teroris dan Islam itu teroris seperti yang digambarkan sama pemerintah? Untung aja gue sudah insyaf jadi kecebong.”
Agus hanya menggelengkan kepala sambil fokus di laptopnya mendengarkan pengalaman Yudhi yang baru berhijrah dan keluar dari kedunguan
***************************************************************************
Seminggu Kemudian....
“Halo Yudh lo dimana, udah bangun belum?”
“Hmmm... Hoooam.... belum nih gue masih ngantuk nih kita kan baru pulang 24.30 malam.”
“Yaelah la ilaha ilallah. Buruan bangun udah jam 06.00 pagi nih. Habis itu lo langsung mandi, siap-siap. Kita ketemuan di bandara ya. Nanti kita transitnya di Singapore dulu.”
“Ok bro. Siap pak bos”
***************************************************************************
Beberapa Jam Kemudian
Di bandara pukul 07.15 WIB
(Yudhi) : “Halo Gus. Lo dimana sih? lama amat lo pesawat kita jam 08.15 buruan.”
(Agus) : “Ya halo, ini gue udah di bandara (ternyata si Agus sudah ada disebelah Yudhi)
Bruuk...
“Hati-hati dong mas!”
“Ini gue agus, pea.”
“Aduh bro. Lo darimana aja sih bro”
“Sorry gue baru nyampe habis urus visa di depan soalnya.”
“Gimana passport udah beres. Berapaan lo bayar?”
“Hm bayar apaan. Ini bebas cuman nunggu 1 minggu proses, 5 jaman untuk verifikasi 1 jam doang cetaknya.”
“Tumben lo hemat duit. Biasanya urus Passport bisa sampai 1 bulan atau 5 hari. Pake orang dalam lo ya?”
“Bukan... Keluarga gue gak ada yang kerja di keimigrasian semuanya pada jadi dosen, pengusaha, lawyer, sama dokter. Cuman ya kali aja ini hari my lucky day.”
Traaang... ting... ting...
Perhatian... para penumpang pesawat Garuda dengan nomor penerbangan JT700 dipersilahkan naik ke pesawat.
“Eh.. itu pesawat kita buruan lari.”
***************************************************************************
“Permisi! permisi numpang lewat.”
“Duh nih tas berat amat. Apaan sih isinya” keluh Yudhi yang sedang berusaha tas ransel hitam miliknya ke dalam kabin pesawat.”
“Sini saya bantu pak, silahkan bapak duduk di kursinya ya pak. Terimakasih.” sapa seorang Pramugari cantik
Agus yang hanya melihat Yudhi geleng-geleng kepala sambil membuka majalah yang tersedia di belakang kursi penumpang
“Hmm gila badannya bro. Bohay bener untung aja gue punya Mellisa kalau nggak gue chat juga tuh pramugari.”
“Woy cewek mulu di otak lo. Fokus dikit napa. Sekarang tuh kita harus pastikan di mana kita tinggal, makan, biaya transportasi dll.”
“Si Lisa enak banget ya. Kerja di perusahaan besar kerjanya keliling dunia terus. Hmm coba ada lisa pasti bakalan enak.”
“Udah deh. Bisa nggak mulai sekarang kita belajar mandiri?”
“Semua udah beres kan?”
“Tenang bro. Semuanya sudah beres.”
“Perlengkapan jelajah alam nanti semuanya udah beres?”
“Ya tenang udah pokoknya semua udah beres.”
“Emangnya kita mau kemana sih?”
“Jadi lo belum tau???”
“Belum”
“La ilaha ilallah. Ya rabb”
“Jadi lo nggak dengar sama sekali presentase yang gue buat?”
“Ya kali aja gue dengar sampai jam 12 malam”
“Jadi kita kemana dulu nih?”
“Kita mulai dari benua afrika”
“kita ke Johanesburg, Afrika Selatan. Kali ini gue mau wujudkan impian gue dari kecil foto dengan singa sang raja hutan dari jarak dekat langsung di alam liar.”
***************************************************************************
“Loh bukannya lo udah sering foto sama singa?”
“Yang itu mah lain cuman dekat kandang doang.”
“Emangnya lo nggak kapok apa. Lo ingat nggak waktu di Taronga plains western zoo di Australia sama di kebun binatang National Park Singapore. Di situ kan dua kali nyawa lo sama tangan lo hampir putus. Untung ada gue.”
“Ya gue tau. Kali ini gue jamin deh di taman Zoologi park di Afsel nanti kita nggak bakal alami kejadian yang sama di sana dijamin deh semuanya safety dan sesuai prosedur. Ayolah (Yudh) bro lagian gue udah lapor sama KBRI di sana dan semuanya sudah dijamin aman sama tim survei yang sudah turun selama sebulan disana. Masa kita kecewain mereka sih Yud??.”
Yudhi mengehela nafas panjang mencoba membuang pikiran negatif dan traumanya dii Taronga western plains zoo, Australia dan National Park Singapore, Singapura
(Yudhi) : “Huuuuft... ya deh gue ikut. Tapi awas kalau sampai ada apa-apa. Resiko tanggung sendiri.
(Agus) : “Lagian lo belum pernah kan coba sensasi tidur di padang safana dikelilingi hewan-hewan buas di malam hari.”
(Yudhi) : “Ya itu sih lo kalau gue sih ogah. Takut keburu mati sebelum nikah gue.”
(Agus) : “Lagipula gue kan udah janji ajak lo tour selama seminggu keliling timur tengah gue kan punya tugas untuk jelasin apa itu Islam dan sebagainya sekalian lo belajar tentang Islam secara kaffah lo kan baru sebulan jadi mualaf. Jangan hanya lihat berita hoax terus akhirnya pikiran lo jadi mandek.”
(Yudhi) : “Okelah gue ikut. Oh iya... ya gue kan masih penasaran sama kodran-kadrun ngarab.”
************************************************************************
(Agus) : “Eh yud... yud bangun woi, kita udah sampai nih di singapore buruan lo waktu kita cuman lima jam doang istirahat habis itu kita kejar pesawat african airlines jam 15.00
***************************************************************************
Pukul 15.00 P.M waktu singapura
(Yudhi) : “Eh gus nggak ada yang ketinggalan kan”
(Agus) : “Nggak ada. Semuanya aman-aman aja, nggak ada masalah. Barang lo nggak ada yang ketinggalan kan Yudh? Nggak ada yang harus dipaketin nanti kan.”
(Yudhi) : “Oke gue aman kok.”
Untuk beberapa saat Agus dan Yudhi aman-aman saja. Sampai nanti Yudhi sadar kalau paspor dan dompetnya ketinggalan di taksi di bandara Chan-gi Singapore.
7 jam kemudian :
(Agus) : “Taxi”
“Can you take we as to the hotel sir?”
(Driver) : “Of course but there are additional costs for two passengers”
Agus berpikir sejenak lalu berdiskusi dengan Yudhi
(Yudhi) : “Gimana nih gus, mana gue nggak bawa uang lebih lagi.”
(Agus) : “Udah nanti gue yang bayar.”
Ok. Please take us to the hotel.”
Bruuum... bruuum nggggggggggggggggggiks (bunyi taksi)
***************************************************************************
“Can I help you sir?”
“Excuse me, Miss.”
“Can book a room?”
“Sorry how long will you stay. We have a regular room package for a few day until a luxury room for a week.”
“We ordered a special room facing on sea with two sleeping bad.”
***************************************************************************
Setelah menginap beberapa malam Agus dan Yudhi memulai kegiatan jelajah alam mereka selama 2 bulan di dalam hutan afrika. Belajar bertahan hidup di tengah kerasnya persaingan rantai makanan di dalam hutan. Ancaman menjadi target mangsa predator dan hewan buas pun menjadi taruhannya di dalam hutan pun Yudhi mengerti bahwa hewan yang ditakuti di dalam hutan bukanlah singa, hyena, puma, macan, aligator atau black mamba snack. Akan tetapi sekelompok jenis katak beracun yang sangat cerdik dalam berkamuflase memiliki tentakel yang berselaput dan tubuhnya yang berlendir dan beracun yang diam-diam menghanyutkan bersembunyi di dalam kolam di rawa-rawa namun sangat agresif dan mematikan di atas darat.
**************************************************************************
(Agus) : “Eh Yudh sebelum kita balik ke Jakarta gue kan punya janji sama lo buat ajaki lo tour keliling UEA.
(Yudhi) sangat bersemangat : “Oh iya... ya. Buruan dong kita pergi dari sini gue udah nggak betah lama-lama tinggal di hutan. Emangnya kita hewan apa?
(Agus) : Hahaha. Oke yuk balik
***************************************************************************
Agus dan Yudhi kembali ke hotel tempat mereka menginap. Setelah sehari menginap di hotel keesokan paginya mereka pun terbang ke Abu Dhabi untuk menghabiskan masa liburan mereka yang sebentar lagi berakhir.
Huuuuuuuuuuuust.....
(Yudhi) : “Huuuuuuuuuuuuu!!” huuuuuuuu!! Wow keren men Abu Dhabi memang keren berasa kayak di LV (Las Vegas) U.S.A bro.
Ckrek.... ckrek...
(Agus) : “Eh Yudh gue lapar nih. Dari tadi gue belum sempat sarapan. Kita cari makan siang yuk.”
(Yudhi) : “Waduh. Hehe iya juga sih sama perut gue juga udah nggak bisa di ajak negosiasi udah mulai keroncongan nih.”
(Agus) : “Kayak konfrensi meja bundar aja lo”
***************************************************************************
(Agus) : “Tapi gue lagi ngidem makanan korea nih. Tapi disini nggak ada restoran makanan korea lagi.”
(Yudhi) : “Yaelah lo sih bukan ngidam tapi sering. Lo kan tiap hari pergi makan di restoran korea? Lagian kita ada di UEA, Abu Dhabi bro. Mana ada resto korea buka disini.”
(Agus) : “kita cari restoran Indonesia atau arabic disini”
Di restoran Indonesia
“Mbak pesan rendang, kangkung tumis asam, telur balado sama semur jengkol ya mbak.”
“Baik mas,”
***************************************************************************
(Yudhi) : “Alhamdulillah kenyang juga.”
(Agus) : “Iye lo sih kenyang, gue yang tekor.”
Di jalan
(Yudhi) : “Eh gus nanti kita ke Doha, Qatar yuk nonton Reli Dakar. Tenang kali ini gue yang bayar gue udah nemu dompet gue waktu lagi beres-beres di hotel sama sekalian kita masuk di museum Al-Quran 4D kata lo. Lo kan mau ajarin gue tentang Islam.”
(Agus) ngebacot dalam hati : “Yudh... yudh... untung aja lo sahabat gue dari kecil yang paling bae yudh dan gue punya tugas mulia bimbing lo ke jalan lurus kalau nggak dari tadi udah gue bikin jadi sate onta juga lo.”
Di tengah jalan mereka bertemu seorang petugas kebersihan yang sedang mengeluh sendirian.
“Huuh andai saja ahok yang jadi gubernur bukan anies pasti aku nggak jadi babu kadrun kayak gini.”
Agus dan Yudhi yang sedang lewat mendengar celotehan petugas kebersihan itu pun berhenti
(Agus) menepuk bahu petugas kebersihan yang berumur sekitar 60-an tahun itu : “Pak, bapak orang Indonesia ya.”
“Iya saya orang Indonesia. Ada apa ya, apa kalian berdua tersesat?.”
(Agus) : “Oh nggak pak, kami pelancong kebetulan kami lagi traveling disini. Ngomong-ngomong bapak orang Jakarta ya?
“Bukan saya orang asli Madiun, hanya pernah tinggal di tebet. Kebetulan keluarga saya semuanya saya taruh di Jakarta dulu saya petugas kebersihan di DKI waktu pak ahok jadi gubernur gaji saya sampai Rp 1.000.000,- tapi sejak ada si Anies saya berhenti dan terpaksa jadi TKI. Pokoknya Jokowi dan Ahok idola saya.”
(Yudhi) menyela : “Kok bapak gitu sih bersyukur lah pak kalau bukan Anis jakarta nggak akan jadi kota terbaik se asia
“Tau apa kamu soal si Anis! Kalau bukan si Anis gubernur hasil ngulama-ngulamaan di monas. Ahok masih jadi gubernur. Ahok tuh orang baik hanya kena fitnah dari si Anis dan si mesum Rijik (dengan nada terkadang menangis ingat Ahok dan marah jika berbicara soal Anies)
(Yudhi) berbisik : “Hmm gini nih virus cebong kalau udah menyebar.”
(Agus) : “Sssst... udah.”
Maaf pak kalau boleh saya tau nama bapak siapa ya? “Nama saya Slamet. Kalian?”
Oh saya Agus dan ini teman saya Yudhi kami mahasiswa yang lagi liburan kebetulan kami hobi traveling dan cari uang lewat photografer
(Pak Slamet) langsung mencela tanpa mendengarkan dengan baik. Ciri khas cebong : “Enak ya jadi anak orang kaya apalagi anak koruptor?.”
(Yudhi) emosi : “Bapak bilang apa barusan?”
(Slamet) : “Lah saya kan singgung orang lain kenapa jadi kamu yang emosi?”
(Agus) : “Udah.. udah Yudh tahan emosi lo
Oh ya pak kami mau ke musem Al-Quran 4D, bapak mau ikut?
(Yudhi) : Gus! Apa-apaan sih lo ngapain ngajak nih orang segala
(Agus) : “Huuust... udah jangan su’udzon dulu. Lo ikut aja rencana gue.”
(Pak Slamet) : “Ayo!” tapi saya pulang ke rumah dulu siap-siap dandan yang rapi, pakai minyak wangi. Siapa tau kalian mau ajak lihat cewek-cewek arab sambil kita dinner. Hahahay.”
(Yudhi) : “Hmm kepedean banget sih nih layangan kusut.”
(Agus) : “Bukan sekarang pak, gimana kalau hari minggu besok.”
(Pak Slamet) : “Yah... kirain kalian mau ajak saya ke sana malam ini. Sekalian kita hepi-hepi di bar gitu.”
(Agus) : “Astagfirullah pak sadar pak, harusnya bapak semakin tua semakin mendekat kepada Allah bukan malah semakin cinta dunia.”
(Pak Slamet) berubah jadi marah kepada agus : “Alah! Nggak usah ceramahin saya. Saya lebih ngerti agama dibanding kalian. Sekarang saya hanya mau menikmati dunia. Nyesal saya jadi TKI di negeri kadrun coba saya perginya di negara lebih berkelas kayak Amerika, Hongkong.”
Begitulah pak Slamet terus mengeluh sambil berjalan pulang.
***************************************************************************
Keesokan harinya di museum
(Agus) : “Nah pak sekarang saya dan Yudhi akan ajak bapak keliling-keliling museum.”
Mereka bertiga akhirnya berkeliling di museum yang sangat luas itu pak Slamet yang kemarin begitu pongah dalam menghina Islam menjadi berubah matanya terus berkaca-kaca selama berkeliling di temani oleh tourism guide museum dan sambil mendengar murottal al-quran yang terdengar di seluruh ruangan museum
(Pemandu museum) : “This a Rasulullah Muhammad S.A.W beard we keeping in the glass box.”
Pemandu itu memperlihatkan sehelai janggot milik Rasulullah Nabi Muhammad S.A.W yang tersimpan rapi dalam kotak kaca
Lalu terakhir pemandu museum mengajak kami mengenal Attha Bin Robbah seorang ulama yang berkulit hitam tuli, lumpuh dan buta sejak kecil namun sangat cinta kepada Rasulullah
(Pemandu) : “This Attha Bin Robbah a ulammah from Yaman his Name’s Abu Muhammad Atha bin Abi Rabah Asalam bin Shafwan. Since his child his a diffable. His a slayer. But his a fiqih expert, His masterpiece a reference literation for the ulammah in the world until today
Sambil berdoa pak Slamet menangis sejadi-jadinya : “Ya Allah ampuni hamba ya Allah karena tidak pernah bersyukur atas nikamat-Mu ya Allah
(Yudhi) : “Tuh bapak lihat sendiri kan Atha bin Rabah yang serba kekurangan saja masih bersyukur. Walau hidup terbatas tapi beliau sangat cinta kepada Allah dan Rasulullah. Atha bin Rabah nggak pernah ngeluh apalagi sampai menyalahkan Allah dan menghujat Rasulullah. Bapak yang punya fisik sempurna harusnya bapak malu dong pak kerja di negara arab, naik haji ke arab, dikasih bantuan sama arab. Tapi hina arab benci agamanya. Mikir dong pak
Nih ongkos pulang
Mereka berdua pun pergi meninggalkan pak Slamet yang masih bersedih dan bigung atas kejadian yang dialaminya
***********************