Profil

My photo
Assalamualaikum, gaes, Welcome my blog. Disini saya akan membahas seputar pendidikan dan jasa ghost writer

Saturday, January 26, 2019


PERKEMBANGAN teknologi semakin pesat dan berbagai bidang kehidupan yang lain seolah dipaksa untuk ikut lari bersamanya. Tidak hanya filsafat -yang merespons dengan kemunculan cabang-cabang baru seperti filsafat media, filsafat teknologi, hingga filsafat internet- produk peradaban lain yang tak kalah purba, yaitu seni, juga dipaksa memikirkan kemajuan teknologi. 
Awalnya mungkin, baik filsafat maupun seni, tidak terlalu ambil pusing dengan teknologi. Baik filsafat maupun seni, kedua bidang tersebut dianggap punya indepensinya sendiri. Teknologi memang digunakan untuk menopang keduanya, tetapi tidak terlalu dipikirkan sebagai sebuah bahan kajian yang khusus.
Salah satu penanda bidang filsafat maupun seni sudah mulai memikirkan teknologi adalah ketika seorang pemikir asal Jerman, Walter Benjamin, menulis artikel berjudul ”Work of Art in The Age of Mechanical Reproduction” pada tahun 1935. Pada artikel tersebut, Benjamin menyoroti perkembangan teknologi yang mampu mereproduksi karya seni sedemikian rupa sehingga karya seni tersebut menjadi kehilangan 'aura'.
Reproduksi karya seni membuat karya seni, yang tadinya diagungkan karena orisinalitas dan keautentikannya, menjadi menurun nilainya karena mampu difabrikasi. Dalam konteks hari ini, ”ketakutan” Benjamin terbukti misalnya dengan kita dapat melihat lukisan karya Van Gogh atau musik karya Beethoven lewat internet secara gratis. 
Meski demikian, pendapat Benjamin tersebut dapat ditafsirkan dari sudut pandang lain. Misalnya, dengan teknologi reproduksi tersebut, justru seni menjadi egaliter dan dapat dinikmati oleh sebanyak mungkin orang dari berbagai kelas. Tidak menjadi monopoli bagi kaum tertentu yang cenderung elitis.  
Terlebih lagi, jika diurut ke belakang, terutama seni, punya akar kata yang mirip denganteknologi. Di masa Yunani Kuno, seni sering disebut juga dengan techne atau disamakan dengan keterampilan (craftmanship). Teknologi sendiri mengandung kata techne yang artinya juga melibatkan semacam aspek keterampilan untuk mencapai suatu tujuan yang biasanya terkait dengan kepentingan-kepentingan manusia. 
Persamaan akar kata ini seolah tidak diungkit-ungkit lagi dalam perkembangannya, terutama ketika peradaban telah memasuki masa modern. Teknologi seolah-olah menjadi wilayah kajian ilmu pengetahuan alam yang mensyaratkan objektivitas, akurasi, dan hukum berpikir yang ketat. Sementara itu, seni menjadi murni persoalan intuisi, subjektivitas, dan ukuran-ukurannya cenderung relatif berbasiskan pengalaman. 

Pembingkaian



Sementara itu, filsafat juga tidak henti-hentinya memikirkan teknologi. Dalam salah satu karyanya yang berjudul The Question Concerning Technology (1954), filsuf Jerman, Martin Heidegger, membahas mengenai esensi dari teknologi. Menurut Heidegger, teknologi, pada dasarnya melakukan pembingkaian (enframing; gestell) terhadap pandangan kita akan dunia.
Melalui teknologi, kita serta merta melihat alam sebagai sesuatu yang harus dikuasai dan dimanipulasi. Heidegger mengakui, dengan keberadaan teknologi, manusia berhasil menyibak sesuatu dari yang tadinya gelap menjadi terang.
Namun, harus diakui,  ketersibakan ini adalah sekaligus juga ketertutupan di sisi yang lain. Dalam bukunya tersebut, Heidegger memberi contoh bagaimana keberadaan pembangkit listrik di Sungai Rhine telah mengubah fungsi dari sungai tersebut menjadi sebuah energi untuk kehidupan manusia. Namun, di sisi lain, sungai sebagai sebuah penampakan alam yang utuh, menjadi tersembunyi di waktu yang sama.
Kenyataan bahwa dunia kontemporer kian membicarakan teknologi lewat pandangan yang beragam, menunjukan suatu hal penting: teknologi tidak bisa lagi dipandang sebagai produk sains semata-mata. Teknologi tidak bisa lagi berdiri sebagai satu entitas yang independen dan terpisah dari aspek-aspek kehidupan yang lain. Dapat dikatakan dengan gamblang bahwa teknologi adalah sebuah kajian transdisiplin, yang mengharuskan pencipta maupun pengguna, memanfaatkannya dalam kerangka acuan - yang dua di antaranya adalah - filsafat dan seni. 
Dalam konteks yang lebih aplikatif, teknologi tidak bisa semata-mata ditujukan untuk kepentingan praktis manusia saja. Teknologi harus dipandang dalam suatu perspektif yang lebih holistik. Misalnya, aspek etik. Apakah kecanggihan gawai hari ini harus disikapi sebagai ”kematian” bagi proses berpikir yang runut?
Dengan gawai, orang dengan mudah mencari tahu informasi. Kelemahannya, informasi tersebut kadang tidak mampu diproses melalui cara berpikir yang benar, sehingga menyebabkan terjadinya hoaks. Lalu, apakah kecanggihan teknologi, yang membuat siapa pun bisa menjadi ”seniman” - lewat reproduksi digital ataupun penyuntingan digital - adalah pertanda bahwa profesi seniman sebagai seorang yang terampil, lambat laun kian menemui akhir? 
Teknologi, di sisi lain telah banyak membantu seni. Itu harus diakui. Sekarang ini bermunculan cabang seni seperti video art, sound art, hingga musik komputer yang punya relasi kuat dengan teknologi. Seni digital berkembang pesat dan memiliki pesonanya tersendiri. Tidak terlalu jemawa jika dikatakan bahwa teknologi sangat memengaruhi perkembangan seni dari sejak ditemukannya cat, kanvas, kuas, gitar elektrik, efek digital, media rekam, dan seterusnya. 
Atas relasi yang begitu kuat antara teknologi dan filsafat serta seni, maka sekat-sekat antara ketiganya harus segera diruntuhkan. Hal itu dapat dimulai dari pelajaran-pelajaran tentang teknologi yang seyogianya juga ada kaitannya dengan filsafat dan seni, pun sebaliknya.
Jangan sampai teknologi berjalan sendirian atas nama kepraktisan hidup, lantas filsafat dan seni menjadi pihak yang hanya membaca dan mengritisinya tanpa bisa berbuat apa-apa. Jika benar aspek transdisiplin ini terus dijalankan, maka ramalan Stanley Kubrick dalam film ”2001: A Space Odyssey” (1968) tentang digantikannya peran manusia oleh teknologi, menjadi tidak terjadi
Penggabungan antara seni lukis dan teknologi dapat menciptakan kombinasi mahakarya baru yang menarik dan bernilai ekonomis tinggi.

No comments:

Post a Comment